Sri Puji Minta PJJ Tak Sekadar Beri Tugas, Materi Belajar Siswa Harus Tetap Tersampaikan

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti

SAMARINDA – Pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak boleh sekadar menjadi sarana pemberian tugas kepada siswa.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengingatkan sekolah agar memastikan materi pembelajaran tetap tersampaikan meski kegiatan belajar dilakukan dari rumah.

Bacaan Lainnya

Menurut Sri Puji, PJJ merupakan langkah darurat untuk melindungi siswa dari paparan udara yang tidak sehat. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala, terutama bagi siswa dan guru yang tidak memiliki perangkat maupun akses internet memadai.

“Kalau kita bilang efektif atau tidak, tentu tidak efektif,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, hasil kunjungannya ke sejumlah sekolah menunjukkan kemampuan pelaksanaan PJJ belum merata. Beberapa sekolah sudah menggunakan laptop untuk memberikan materi dan tugas, sedangkan sekolah lainnya masih terbatas dalam menyediakan fasilitas pembelajaran daring.

“Tidak semua anak memiliki akses HP atau tidak semua anak memiliki internet, atau mungkin gurunya tidak punya laptop, ya itu kan jadi masalah,” katanya.

Keterbatasan tersebut berpotensi menghambat pemahaman siswa karena tidak semua anak dapat mengakses materi yang diberikan guru. Dalam kondisi tertentu, siswa mungkin hanya menerima tugas tanpa memperoleh penjelasan yang cukup untuk memahami pelajaran.

Di sisi lain, Sri Puji mengapresiasi sekolah yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menjaga kegiatan belajar tetap berlangsung. Ia menyebut SD 004 dan SD 010 sebagai contoh sekolah yang dinilainya cukup baik dalam menerapkan PJJ melalui penggunaan laptop untuk menyampaikan materi dan tugas.

“Nah itu kebetulan di daerah SD 04, SD 010 kalau enggak salah, itu dia PJJ-nya bagus. Jadi dia memberikan tugas, memberikan pembelajaran melalui laptop tadi dan beberapa anak bisa mengakses yang memiliki internet atau memiliki HP atau laptop,” tuturnya.

Sri Puji menilai kekurangan materi selama pembelajaran daring masih bisa dilengkapi ketika siswa kembali belajar secara tatap muka. Meski demikian, sekolah perlu memberi perhatian kepada anak-anak yang terkendala fasilitas agar mereka tidak semakin tertinggal dibandingkan siswa yang memiliki akses teknologi memadai.

Ia juga berharap kebijakan PJJ tidak diterapkan terlalu lama. Menurutnya, metode tersebut seharusnya menjadi langkah sementara selama kondisi udara belum memungkinkan siswa mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah.

“Harapannya PJJ-nya kan sebentar saja, enggak sebagai waktu pokok,” katanya.

Sri Puji menegaskan, perlindungan kesehatan dan pemenuhan hak pendidikan siswa harus berjalan beriringan. Sekolah perlu tetap mengupayakan pembelajaran yang dapat diakses seluruh siswa, termasuk mereka yang menghadapi keterbatasan perangkat dan jaringan internet.

“Karena itu sekolah diharapkan tetap mengupayakan penyampaian materi pembelajaran, termasuk bagi siswa yang terkendala perangkat dan akses internet,” pungkasnya.(adv)

Pos terkait