Kurikulum AI Masuk Sekolah, Samarinda Masih Dihantui Krisis Guru dan Keterbatasan Fasilitas

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi

Samarinda -Rencana penerapan pembelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) di sekolah-sekolah Samarinda mulai dipertanyakan kesiapan pelaksanaannya.

Di lapangan, banyak sekolah disebut masih kekurangan fasilitas penunjang dan tenaga pengajar.

Bacaan Lainnya

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, menyebut transformasi pendidikan digital tidak bisa dipaksakan tanpa memastikan kesiapan dasar di setiap sekolah.

“Kita tidak bisa hanya bicara kurikulum baru. Sarana, prasarana, dan kesiapan guru juga harus dipastikan dulu,” kata Ismail, Selasa (2/6/2026).

Ia menjelaskan, penerapan materi AI dan coding membutuhkan perangkat komputer, jaringan internet stabil, serta fasilitas pembelajaran digital yang merata.

Tanpa itu, lanjutnya, implementasi hanya akan berjalan di sekolah tertentu yang memiliki fasilitas lebih lengkap.

Di sisi lain, Samarinda masih menghadapi kekurangan tenaga pendidik yang diperkirakan mencapai sekitar 700 guru.

Kondisi tersebut membuat DPRD mempertanyakan kemampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan guru melalui rekrutmen ASN pada tahun 2026.

Ismail menilai kekurangan guru akan berdampak langsung pada proses belajar mengajar di sekolah.

“Kalau guru tidak tersedia, proses belajar terganggu. Ini akan langsung memengaruhi kualitas pendidikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan digitalisasi pendidikan tidak hanya diukur dari masuknya materi AI ke dalam kurikulum, tetapi juga dari kesiapan sistem pendidikan secara menyeluruh.

Menurutnya, pemerintah masih perlu menyelesaikan persoalan mendasar seperti pemerataan fasilitas, ketersediaan guru, hingga penguatan kompetensi tenaga pendidik.

“Kalau bicara pendidikan modern, maka fondasi dasarnya juga harus kuat dulu,” tegasnya. (EFS/ADV)

Pos terkait