Omzet Tak Bergerak, Pasar Pagi Samarinda Perlu Konsep Baru

SAMARINDA– Aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Samarinda belum seramai yang diharapkan. Delapan bulan setelah mulai beroperasi pada Januari 2026, sejumlah pedagang masih mengeluhkan dagangan yang sepi pembeli dan omzet yang belum membaik.

Kondisi itu membuat Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, meminta konsep Pasar Pagi dievaluasi. Ia mengusulkan sejumlah ruang di dalam pasar dialihkan fungsinya agar lebih menarik bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Artinya kita harus *re-branding* ini. Tidak bisa kalau kita mau tetap dengan konsep pasar tradisional yang dimodernisasi,” kata Iswandi (5/9/2026).

Menurut Iswandi, perubahan tidak harus dilakukan dengan membongkar seluruh konsep pasar. Pemerintah cukup melihat kembali area yang belum berfungsi maksimal, kemudian menyesuaikannya dengan jenis usaha yang bisa mendatangkan pengunjung.

Ia mencontohkan lantai dasar yang semula dirancang sebagai pasar basah dapat dialihkan menjadi area penjualan kue dan makanan. Sementara lantai atas bisa digunakan untuk usaha lain, seperti kafe.

“Lantai 1 yang pasar basah tadi dijadikan tempat khusus kue-kue misalkan. Atau nanti di paling atas dijadikan kafe atau bagaimana,” ujarnya.

Sebelum mengubah fungsi ruangan, Iswandi meminta Pemkot Samarinda melakukan kajian terlebih dahulu. Kajian itu perlu melihat kebutuhan pedagang, karakter pengunjung, kondisi bangunan hingga jenis usaha yang memiliki peluang untuk berkembang.

Pengaturan waktu berjualan juga dapat dipertimbangkan. Iswandi mencontohkan penjualan kue di Pasar Senen, Jakarta, yang memiliki waktu operasional tertentu sehingga pembeli mengetahui kapan bisa mendapatkan barang yang dicari.

Meski demikian, usulan perubahan konsep Pasar Pagi masih sebatas wacana. Iswandi mengatakan pedagang perlu dilibatkan dalam pembahasan agar kebijakan yang nantinya diambil tidak justru menambah beban mereka.

Ia menilai pasar tidak cukup hanya terlihat modern. Keberadaannya harus mampu menciptakan aktivitas jual beli dan membuat pedagang mendapatkan penghasilan dari usahanya.

“Yang terpenting itu pasar kembali ramai. Kalau pasarnya hidup dan jualannya laris, pedagang pun bisa bernapas lega dan tersenyum,” pungkasnya.(adv)

Pos terkait